NAFS, NAFAS DAN COVID 19 | Perspektif kolaboratif antara Medis dan Maqosidul Syariat




Oleh : Dr. Abdul Aziz M.H.Kes.M.K.M.
(Ketua Satgas NU Peduli Covid 19 Demak. Direktur RSI NU Demak, ).

Perspektif kolaboratif antara Medis dan Maqosidul Syariat) maka kondisi tersebut patut kita syukuri. Salah satu metode untuk mensyukurinya denga cara saat melakukan proses bernafas saat inspirasi atau menghirup udara dari luar disertakan mengucap lafadz dalam hati Allah dan saat ekspirasi atau mengeluarkan nafas disertai ucap lafadz Hu sehingga hasil bernafas dan respirasi kita akan menghasilkan energi yang positif yang mempunyai kecenderungan menimbulkan nafsu yang tenang atau mutma'innah.

Oksigen yang kita hirup akan diikat oleh hemoglobin dalam darah kita, darah dibentuk oleh sari2 makanan yang kita makan maka untuk memperkuat energi positif yang dihasilkan bernafas juga harus menjaga makanan dengan memastikan kehalalan dan kethoyiban dari asupan makanan dalam tubuh kita

Dalam tahapan ini berarti kita sudah menjaga setiap respirasi dengan baik dan benar, jangan gunakan nafasmu untuk maksiat tapi untuk energi kebaikan dan kemaslahatan. Pandai-pandailah menggunakan nafas untuk taat dan dzikir untuk Allah. Jangan sampai nafas terlepas sia-sia. Gunakan untuk selalu mengingat untuk Allah. Jadikan Allah selalu dalam hati. Dengan begitu, maka aghyar (selain Allah) yang merintangi akan hilang dari hatimu. Yang ada di hati hanyalah Allah.
Selalu ingat kepada Allah dan tenggelam dengan Allah seperti yang terjadi pada Imam Junaid yang menyatakan bahwa: Dibutuhkan lebih banyak tahun berbicara dengan manusia, tetapi sebenarnya ia berbicara dengan Allah. Berharap, Imam Junaid tidak pernah melupakan Allah.

Konsep Berfikir dan Beramal :

Semangat mengharmonikan dan menselaraskan antara daya Naqli-Wahyu- Imaniyah dengan daya Aqli-Ro'yu-Ilmiah.

Hadapi wabah Corona ini dengan Profesional (Berdasarkan ilmu : cuci tangan, pakai masker, pakai APD, stay at home, physical distancing, social distancing dsb ), secara Proporsional (Meletakan dan mensikapi segala sesuatu sesuai haknya, sesuai porsinya, sampaikan segala sesuatu apa adanya, sesuai porsinya jangan di lebih-lebihkan atau ditutup-tutupi), Jangan panik dan tetap Tenang yang selalu di iringi dengan Do'a  dan Sholawat atas Nabi Muhammad saw.

Ketenangan jiwa solusi persoalan

1. Allah swt bersabda

*إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ*

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(QS.Ar-Ra'du:11).

2.Rasulullah saw bersabda,

*الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ*

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qoddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad dan Muslim )

3. Allah SWT bersabda 

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۖ ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ 
فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى ۙ 
وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى

"Wahai jiwa yang tenang !, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku," dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr : 27-30)

Jiwa yang Tenang
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang membenarkan dan mengimani janji2 Allâh SWT kemudian dia beriman, bertakwa dan berlepas diri dari kesyirikan dan keburukan. Jiwa yang mengingat Allâh SWT dan jiwa yang bahagia karena kecintaannya kepada Allâh SWT.

Ketenangan Jiwa  adalah jiwa setelah melakukan dan meyempurnakan  ikhtiyar lalu bertawakal kepada Allah swt shg didapatkan jiwa yg tenang, Jiwa yang berada di dalam tengah-tengah pusaran gelombang samudra ketauhidan sedemikian rupa sehingga dia bergerak dalam diam dan diam dalam derasnya dinamika dialektika dan selanjutnya dia tak bisa melihat, mendengar dan merasakan apapun kecuali menyaksikan indah dan nikmatnya ketauhidan hakiki sehingga tak tersadarkan atas kehendak-Nya bisa terselamatkan dalam wabah virus corona duniawi.

Saatnya menyatukan seluruh komponen kekuatan bangsa dan menghindari perdebatan yang kontraproduktif

Saatnya kita bersatu, berkolaborasi dan bersinergi bersama-sama saling mengisi dan menguatkan, saling mengingatkan untuk waspada dan mensupport untuk menenangkan, saling menyempurnakan ikhtiyar, berdo'a  dan bersholawat atas Nabi Muhammad saw agar Allah berkenan menyelematkan kita semua, bangsa dan negeri kita dari segala macam mara bahaya termasuk dari wabah corona yang mendunia.

آمين يارب العالمين
آمين يامجيب السإلين

🤲🤲🤲🤲🤲

0 Response to "NAFS, NAFAS DAN COVID 19 | Perspektif kolaboratif antara Medis dan Maqosidul Syariat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel